Archive for the ‘enterprenership’ Category
TEMPO.CO, Pontianak - Melati Fajarwati, warga Pontianak, sukses menjadi jutawan dengan berjualan telur. Omzetnya per tahun mencapai Rp 4,3 miliar dan dipasarkan hingga ke Pulau Jawa.
Bisnis peternakan biasanya jarang bersentuhan dengan wanita. Pasalnya, wanita kerap menjalankan usaha yang menyentuh sisi feminitas. Berbeda dengan Mela, melihat peluang pasar telur ayam organik, dari jenis ayam Arab atau ayam Balqis, dia pun mencoba peluang bisnis tersebut.
“Kalbar masih mempunyai lahan yang mumpuni untuk membangun usaha peternakan. Lagi pula tidak terlalu sulit pengembangannya,” kata Melati, dalam seminar “Wanita Wirausaha Mandiri-Femina” dengan tema Inovasi Tanpa Batas, Sabtu, 23 Maret 2013, di Pontianak.
Mela, panggilan akrab perempuan pertengahan 20 tahun ini, mengawali bisnisnya dengan mengikuti lomba kewirausahaan yang diadakan oleh Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan. Dia terinspirasi dari peternakan ayam Balqis milik tetangganya. “Saya melihat peluangnya cukup bagus, tetapi belum terkelola dengan baik,” katanya.
Mela lantas membuat bisnis plan dan memproyeksikan peluang usaha ayam Balqis tersebut. Tak disangka, proposal bisnis yang diajukannya kemudian disetujui dan dibantu dalam mewujudkannya. Beranjak dari usahanya tersebut, Mela kemudian mengikuti lomba kewirausahaan yang diadakan Bank Mandiri, dan keluar sebagai pemenangnya. Uang hadiah pun kembali dijadikan penguatan untuk modal usahanya.
“Kini saya bisa menghasilkan lebih dari 4.000 butir telur per hari dengan harga @ Rp 2.500 per butirnya,” kata Mela. Seharinya tak kurang dari Rp 10 juta keuntungan bersih diraihnya. Setahun, omzet Mela bisa mencapai Rp 4,3 miliar. Peternakan Mela, di kawasan Parit Wak Liji, Kabupaten Kubu Raya, telah membawanya menjadi jutawan dalam usia muda.
Kisah sukses Mela ini menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan Kalimantan Barat, untuk dapat melirik peluang usaha yang masih terbuka luas. Wati Susilawati (25), pengusaha bisnis minuman, menyatakan perempuan Kalbar harus banyak mendapatkan informasi mengenai kesuksesan perempuan dalam kemandirian ekonomi.
Walau masih lajang, Wati menyatakan mandiri secara ekonomi merupakan hal yang sangat penting bagi perempuan di era ini. “Terlebih Kota Pontianak mencanangkan sebagai kota perdagangan dan jasa,” ujarnya. Awalnya, perempuan yang juga bekerja di media tersebut memiliki empat usaha skala kecil. Wati mengelola burger dan gorengan, serta dua waralaba minuman.
Tetapi karena kurang pengetahuan tentang manajemen kewirausahaan, Wati kewalahan. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengelola usaha dengan merek dagang sendiri. “Tetapi kuncinya, jangan takut rugi dan harus fokus,” ujarnya.
ASEANTY PAHLEVI
Berita Lainnya:
Porsche Nabrak, Polisi Temukan Ratusan Happy Five
Pelaku Tipu Internet Banyak Dari Afrika
Julia Perez Bernyanyi dalam Sel Pondok Bambu
Garuda Ajak Penggemar Sepeda Jelajahi Wisata Solo
<!–
HomeBisnisIndustri–>
TEMPO.CO, Pangandaran – Mobil gowes menciptakan lahan bisnis wisata baru di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Selama tiga bulan sejak kemunculannya, kini sudah ada sekitar 300 mobil gowes yang disewakan. Wisata sehat dan bebas polusi itu marak karena diminati wisatawan.
Mobil gowes merupakan sepeda berpedal empat yang dikemas seperti mobil. Wahana seukuran mobil kecil itu bisa dinaiki hingga enam orang dewasa atau 10 penumpang anak-anak. Tenaga penggeraknya dari kayuhan empat penumpang yang duduk di sisi kiri dan kanan. Mobil itu dihias lampu warna-warni di sekujur tiang dan rangka hingga atap sehingga terlihat menarik saat berseliweran malam hari.
Sejumlah pemilik atau penyewa mobil gowes mengatakan, harga sebuah mobil gowes baru berkisar Rp 11-13 juta. Harga itu sudah termasuk alat pemutar lagu, speaker, dan aki mobil. Harga mobil gowes bekas sekitar Rp 9 juta. Sebagian besar mobil itu didatangkan dari Cilacap, beberapa kini sudah dibuat warga Pangandaran. Pembuatan mobil itu dikerjakan di bengkel-bengkel las.
Di Pangandaran, tarif sewa mobil itu berkisar Rp 70 ribu hingga 100 ribu per jam. Penyewa bisa pula menawar untuk pemakaian selama setengah jam. Penyewaan mobil gowes berlangsung setiap hari selama 24 jam.
Seorang pemilik mobil gowes, Yayan Supriyatna, mengatakan omzet rata-rata dari penyewaan tiga mobil miliknya sebesar Rp 1 juta per minggu atau Rp 4 juta sebulan. “Semuanya bisa balik modal dalam 5 bulan,” kata pegawai kolam renang yang merintis usaha itu sejak Januari 2013 kepada Tempo akhir pekan lalu.
Mobil gowes dipakai untuk berkeliling menikmati suasana pantai di jalan beraspal. Beberapa wisatawan ada juga yang mencobanya saat pagi hingga sore. Namun, kalau cuaca sedang terik, kata Yayan, penyewaan biasanya sepi.
Waktu ramai penyewaan mobil gowes umumnya berlangsung malam hari. “Kebanyakan pengunjung menyewa selama 1-2 jam,” katanya. Hitungan waktunya tak memakai alat canggih, melainkan hanya berdasarkan kesepakatan dan kejujuran kedua belah pihak.
Sejauh ini, mobil gowes Yayan selalu kembali ke tempat semula. Tak ada penumpang yang membawanya kabur atau salah lokasi pemulangan mobil. “Kalau penumpang tersesat, di belakang tiap mobil sudah dipasangi nomor kontak untuk dihubungi,” katanya.
Pemilik atau tukang sewa biasanya ditelepon karen rantai mobil copot. Masalah itu bisa terjadi kalau satu atau dua pengayuh tidak menggenjot pedalnya.
Asal mula mobil gowes konon berasal dari Yogyakarta. Kendaraan itu menjadi wahana wisata malam di Alun-alun. Setelah itu, mobil gowes tersebar ke sejumlah daerah hingga ke Pangandaran.
ANWAR SISWADI
<!–
HomeBisnisIndustri–>
TEMPO.CO, Pangandaran – Mobil gowes menciptakan lahan bisnis wisata baru di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Selama tiga bulan sejak kemunculannya, kini sudah ada sekitar 300 mobil gowes yang disewakan. Wisata sehat dan bebas polusi itu marak karena diminati wisatawan.
Mobil gowes merupakan sepeda berpedal empat yang dikemas seperti mobil. Wahana seukuran mobil kecil itu bisa dinaiki hingga enam orang dewasa atau 10 penumpang anak-anak. Tenaga penggeraknya dari kayuhan empat penumpang yang duduk di sisi kiri dan kanan. Mobil itu dihias lampu warna-warni di sekujur tiang dan rangka hingga atap sehingga terlihat menarik saat berseliweran malam hari.
Sejumlah pemilik atau penyewa mobil gowes mengatakan, harga sebuah mobil gowes baru berkisar Rp 11-13 juta. Harga itu sudah termasuk alat pemutar lagu, speaker, dan aki mobil. Harga mobil gowes bekas sekitar Rp 9 juta. Sebagian besar mobil itu didatangkan dari Cilacap, beberapa kini sudah dibuat warga Pangandaran. Pembuatan mobil itu dikerjakan di bengkel-bengkel las.
Di Pangandaran, tarif sewa mobil itu berkisar Rp 70 ribu hingga 100 ribu per jam. Penyewa bisa pula menawar untuk pemakaian selama setengah jam. Penyewaan mobil gowes berlangsung setiap hari selama 24 jam.
Seorang pemilik mobil gowes, Yayan Supriyatna, mengatakan omzet rata-rata dari penyewaan tiga mobil miliknya sebesar Rp 1 juta per minggu atau Rp 4 juta sebulan. “Semuanya bisa balik modal dalam 5 bulan,” kata pegawai kolam renang yang merintis usaha itu sejak Januari 2013 kepada Tempo akhir pekan lalu.
Mobil gowes dipakai untuk berkeliling menikmati suasana pantai di jalan beraspal. Beberapa wisatawan ada juga yang mencobanya saat pagi hingga sore. Namun, kalau cuaca sedang terik, kata Yayan, penyewaan biasanya sepi.
Waktu ramai penyewaan mobil gowes umumnya berlangsung malam hari. “Kebanyakan pengunjung menyewa selama 1-2 jam,” katanya. Hitungan waktunya tak memakai alat canggih, melainkan hanya berdasarkan kesepakatan dan kejujuran kedua belah pihak.
Sejauh ini, mobil gowes Yayan selalu kembali ke tempat semula. Tak ada penumpang yang membawanya kabur atau salah lokasi pemulangan mobil. “Kalau penumpang tersesat, di belakang tiap mobil sudah dipasangi nomor kontak untuk dihubungi,” katanya.
Pemilik atau tukang sewa biasanya ditelepon karen rantai mobil copot. Masalah itu bisa terjadi kalau satu atau dua pengayuh tidak menggenjot pedalnya.
Asal mula mobil gowes konon berasal dari Yogyakarta. Kendaraan itu menjadi wahana wisata malam di Alun-alun. Setelah itu, mobil gowes tersebar ke sejumlah daerah hingga ke Pangandaran.
ANWAR SISWADI
Jakarta – Ingin berwirausaha tapi bingung memilih jenis usaha? Mie Jupe alias Mie Juara Pedas mungkin bisa jadi pilihan. Mie Jupe merupakan tawaran kemitraan atau business opportunity (BO), bukan waralaba.
Mie ramen bercita rasa Indonesia ini memiliki 3 varian mie, yaitu Mie Jupe kuah, goreng dan spagheti. Untuk Mie Jupe kuah terdiri dari rasa original dan kare, sedangkan Mie Jupe goreng ada rasa original, saus tiram, dan saus pedas dengan tingkat kepedasan mulai level 1 hingga 10.
Ayodya Kunto (30), pemilik Mie Jupe menyebutkan calon investor harus menyediakan uang Rp 150 juta untuk bisa memulai usaha ini.
“Ada niat waralaba (kemitraan/BO) tapi saya nggak menawarkan. Kalau mau ya silakan,” ujarnya kepada detikFinance, di Jakarta, Selasa (2/4/2013).
Ia merinci, jumlah tersebut terbagi dalam 3 bagian, yaitu Rp 40 juta untuk modal awal, Rp 30 juta untuk manajemen fee, dan investasi sebesar Rp 80 juta.
“Tinggal jualan, sudah jadi semua termasuk outlet dan isinya. Nanti setelah balik modal Rp 80 juta, ada bagi hasil 50:50,” terangnya.
Syarat calon investor cukup mudah, hanya perlu satu jalan dan satu pemikiran antara calon investor dan pemilik kemitraan “Ini penting karena kan nanti kita bekerjasama,” katanya.
Usaha yang mulai dirintis sejak Agustus 2012 ini, kini bisa meraup omzet hingga Rp 150 juta per bulan melalui 2 kiosnya. Saat ini, Ayodya sudah memiliki 2 cabang di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur dan di Bintara, Bekasi dan 1 cabang baru yang sudah diluncurkan awal April ini di Harapan Indah Bekasi.
Menurutrnya produk Mie Jupe ini seperti mie ramen dari Jepang namun dengan skala ekonomis menengah ke bawah dengan sedikit inovasi melalui sensasi pedas karena masyarakat Indonesia cenderung suka pedas.
Info lebih lanjut bisa hubungi:
Ayodya Kunto: 081398348398
Twitter: @MieJupe
Facebook: Mie Jupe
(hen/hen)
CEKER merupakan sisa pemotongan ayam setelah diambil karkasnya. Masyarakat mengonsumsi ceker ayam sejauh ini hanya terbatas untuk sop, semur, bacem dan lain-lain. Namun, masih sangat jarang masyarakat mengonsumsi rambak ceker, selain karena sulit didapat di pasar juga karena sulit dalam pengolahannya.
Ceker ayam dijual murah di pasar-pasar yang dihasilkan dari Rumah Potong Ayam (RPA). Dengan nilai jual cakar ayam yang tidak terlalu besar maka perlu alternatif pengolahan ceker ayam yang lebih memiliki nilai jual. Salah satunya pengolahan menjadi rambak ceker ayam.
Rambak ceker ayam tergolong makanan ringan yang memiliki sifat renyah (keras tapi mudah patah). Kerenyahan inilah sebenarnya yang membuat rambak ceker ayam banyak disukai konsumen. Apalagi selain renyah, rasanya juga enak, tahan lama, praktis, dan dapat dinikmati kapan saja terutama di saat santai.
Sebagai bahan baku rambak ceker sebenarnya merupakan daging dan kulit yang ada di bagian kaki. Oleh karena itu, kandungan gizi antara ceker dan daging ayam bisa dikatakan relatif sama. Seperti halnya daging ayam, ceker ayam juga mengandung protein, kalori, kalsium, fosfor, lemak, besi, dan vitamin A serta B1. Meski zat-zat gisi tersebut jumlahnya bervariasi, tetapi kandungan protein, kalori, dan fosfornya cukup tinggi. Untuk itu perlu dipelajari bagaimana mengolah rambak ceker secara tepat dan benar.
Cara pengolahan Rambak Ceker ayam, sebagai berikut:
Bahan:
Cakar ayam:1 kilogram
Garam:100 gram
Cara Membuat:
- Ceker ayam di sortasi dan dicuci sampai bersih
- Ceker ayam direndam dengan air garam lebih 15 menit
- Ceker ayam dikukus selama lebih 3 menit ( jangan terlalu lama untuk memudahkan pengelupasan kulit ).
- Hasil kukusan didinginkan Setelah dingin kulit ceker ayam dikelupas, diusahakan hasil kelupasan dalam keadaan utuh
- Hasil kelupasan dikeringkan dalam oven 50 derjat celsius selama 24 jam, atau di bawah sinar matahari lebih kurang 3 hari
- Ceker ayam yang sudah kering lalu digoreng dan dikemas dalam plastik. (int)
Foto Terkait
Pameran Filateli Dunia
TEMPO.CO, Makassar - PT Pos Indonesia mulai menggarap peluang bisnis online. Harapannya, pengiriman barang melalui Pos Indonesia bisa meningkat 40 persen. Apalagi selama ini 90 persen pengiriman yang diterima Pos Indonesia adalah surat dan dokumen.
Menurut Ebenezer Purba, Vice President Pengembangan Bisnis Surat PT Pos Indonesia, jumlah pengguna Internet di Indonesia saat ini mencapai 60 juta orang. Dan 30 persennya melakukan jual beli lewat Internet. “Potensi ini yang akan kami garap,” kata Purba usai dialog bisnis online di Hotel Trisula Makassar, Kamis, 21 Maret 2013.
Menurut Purba, dalam bisnis online, antara penjual dan pembeli tidak saling bertemu. Dengan demikian, faktor kepercayaan sangat dibutuhkan dalam melakukan transaksi online. “Untuk menghilangkan keraguan masyarakat dalam bisnis online, Pos Indonesia akan meluncurkan program E-Commerce,” katanya.
Program E-Commerce ini akan menjadi perantara bagi penjual dan pembeli. Saat ingin membeli barang, pembeli tidak langsung mengirim uang ke rekening penjual, tapi dikirim ke rekening E-Commerce yang dikelola Pos Indonesia. Setelah barang sampai ke pembeli, barulah Pos Indonesia mengirim uang ke penjual. “Jadi, kepastian jual beli lebih terjamin,” kata Purba.
Menurut Purba, distribusi surat dan dokumen di Pos Indonesia wilayah Sulawesi pada tahun 2012 meningkat 74 persen dari realisasi tahun 2011. Surat dan dokumen ini didominasi oleh perusahaan. “Untuk surat perorangan masih sangat minim,” katanya.
Selain memberikan jaminan keamanan kepada pembeli dan penjual di dunia maya, Pos Indonesia juga akan memberikan pelayanan penjemputan langsung ke tempat penjualan barang sehingga penjual tidak perlu repot ke kantor pos. “Kami juga memberikan tarif khusus,” kata Purba.
Purba yakin programE-Commerce ini bisa diterima oleh masyarakat, terutama mengingat jumlah kantor cabang PT Pos tersebar di setiap daerah di Indonesia. “Kami memiliki 3.800 kantor cabang dengan jumlah unit pelayanan 26 ribu,” katanya.
Kepala area operasi PT Pos Indonesia wilayah Sulawesi, Eko Yudo, mengatakan keuntungan bekerja sama dengan Pos Indonesia adalah barangnya dijamin cepat sampai. “Barang yang rusak atau hilang juga akan kami ganti seratus persen,” kata Eko.
Irwansyah, ketua Kaskus Makassar, mengatakan peluang usaha online terus tumbuh pesat. Untuk Kaskus saja, setiap harinya terjadi transaksi hingga Rp 400 juta. “Sehingga barang yang ditransaksikan ini menjadi incaran pengusaha kurir,” katanya. Untuk kota Makassar, barang yang diperjualbelikan umumnya adalah pakaian dan gadget. “Usaha online ini meningkat 20-25 persen setiap tahun,” kata Irwansyah.
MUHAMMAD YUNUS
Berita Terpopuler:
Mengapa Ibas Laporkan Yulianis ke Polisi
Ramai-ramai Patok ‘Kebun Binatang’ Djoko Susilo
Enam Pernyataan Soal Ibas dan Yulianis
Sakit Hati, Tersangka D Bunuh Bos Servis Komputer
Jokowi Tak Persoalkan Hengkangnya 90 Perusahaan
Pengganti Pramono Edhie di Tangan Presiden

Memberikan dampak yang besar dengan meningkatkan laju ekonomi
SAMPIT, Jaringnews.com – Banyaknya Sumber Daya Alam (SDA) serta peluang usaha yang berada di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah (Kalteng) nampaknya menjadi primadona oleh para investor yang berasal dari luar daerah maupun investor asing untuk berlomba-lomba menanamkan sahamnya.
Terbukti, dalam waktu dekat ini, investor dari luar daerah akan menanamkan sahamnya pada industri hilir Kotim dengan mencapai angka investasi sebesar Rp 1 triliun.
Hal tersebut langsung disampaikan oleh Bupati Kotim H Supian Hadi, menurutnya investor tersebut sudah memasuki Kotim sejak beberapa bulan yang lalu.
“Rencananya akan dibuat pabrik pengolahan pupuk dengan investasi mencapai Rp 1 triliun, saat ini mereka (investor) sedang menentukan lokasi seluas 400 hektar,” katanya di Sampit, Rabu (20/3).
Dengan banyaknya investasi yang ditanamkan pihak investor ke Kabupaten Kotim katanya, akan memberikan dampak yang besar dengan menumbuhkan serta meningkatkan laju ekonomi di kabupaten yang berjulukkan bumi habaring hurung itu.
(Mvi / Mys)
Bisnis jangkrik salah satu usaha sangat menguntungkan(Foto: Boy Gunawan)
LENSAINDONESIA.COM: Ditengah lesunya kondisi perekonomian saat ini, masyarakat banyak yang ingin mencari peluang usaha alternatif yang lebih menguntungkan. Salah satunya yakni dengan beternak jangkrik. Budidaya serangga ini selain perawatannya sangat mudah, usaha ini juga tidak mengeluarkan biaya produksi yang tinggi.
Setelah usaha di berbagai sektor sudah dianggap tidak menguntungkan karena terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan, saat ini masyarakat banyak melirik jenis usaha yang aman dan menguntungkan. Dengan modal sedikit tapi bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan.
Baca juga: Akhirnya Kasus Kekerasan Terhadap Mahasiswa UPS Tegal Berakhir Damai dan Sebenarnya, TNI Berniat Melindungi Mahasiswa UPS Tegal
Salah satu usaha alternatif yang banyak dilirik saat ini adalah ternak jangkrik. Di Kota Tegal, Jawa Tengah, usaha ini dinilai lebih menjanjikan. Modal yang dikeluarkan tidak besar namun keuntungannya bisa mencapai 100 porsen dari modal yang dikeluarkan.
Zaman dulu, jangkrik dicari orang untuk dipelihara karena memiliki suara derikan yang bagus dan merdu selain itu juga dijadikan sebagai hewan aduan. Jangkrik yang punya kelebihan itu harganya lumayan dan banyak dicari.
Sedangkan jenis jangkrik biasa sama sekali tidak diminati atau dilirik. Akan tetapi seiring dengan berkembangnya hobi manusia, jangkrik jenis biasa kini banyak dipelihara. Para pehobi ikan hias dan burung jenis berkicau sangat membutuhkan serangga yang satu ini sebagai pakan hewan kesayangannya tersebut.
Lambat laun, kebutuhan pakan hewan piaraan itu makin meningkat tajam. Jumlah peternak jangkrik di Kota Tegal, saat ini jumlahnya makin banyak. Pada tahun 2012 yang lalu, peternak jangkrik jumlahnya hanya 6 orang namun kini sudah mencapai 23 orang peternak.
Rata-rata mereka memiliki kandang besar sebanyak 50 buah dan ratusan kandang kecil. Kandang yang besar biasanya terbuat dari papan triplek berukuran 150 x 100 x 50 centimeter. Sedangkan kandang kecil hanya terbuat dari dus/ kardus bekas kemasan mie instant.
Jangkrik bisa dipanen setiap 25 hari sekali. Untuk satu kandang ukuran besar. Bisa menghasilkan 15 kilogram sedangkan kandang kecil hanya 3 kilogram. Agar jangkrik ini bisa tetap hidup, didalam kandang harus diberi pakan yang berupa daun-daunan kering dan sayuran, sebagai tambahan setiap sorenya diberi bekatul halus. Serangga ini dapat tumbuh sehat jika dipelihara dalam kandang yang terhindar langsung dari sengatan matahari atau harus disimpan ditempat yang lembab.
Selain itu diusahakan terhindar dari serangan semut dan cicak. Salain mudah dalam cara beternak, bisnis ini tergolong sangat menjanjikan. Setiap 1 kilogram dijual dengan harga Rp.20 ribu hingga Rp.35 ribu tergantung kondisi jangkrik saat panen.
Sarif Usman, salah seorang peternak jangkrik mengatakan kepada LICOM, rabu (20/3/2013) di lokasi ternaknya, dengan jumlah kandang besar sebanyak 40 buah setiap hari bisa memanen 15 kilogram.
“Untung yang diperoleh peternak ini cukup terbilang besar karena setiap kandang hanya menghabiskan biaya pemeliharaan sebesar 3p. 15 ribu,” ujarnya
Serangga jangkrik sangat mudah dalam pemasarannya. Untuk pasaran lokal Tegal dans sekitarnya setiap hari bisa menyerap 100 kilogram jangkrik. Disamping itu jangkrik juga banyak dipasarkan kepeternak yang ada diluar kota seperti Semarang, Bandung dan Jakarta.
Usaha ini sangat mudah dilakukan oleh siapa saja dan tidak memerlukan keahlian khusus layaknya seperti usaha ternak hewan lainnya. Asal pakan sayuran terpenuhi, jangkrik ini akan tetap hidup dan berkembang biak. @boy
Editor: +Catur Prasetya
Menamatkan pendidikan S1 Sastra Inggris Universitas Dr. Soetomo, redaktur yang juga penghobi berat bulutangkis…
Facebook Twitter Google+ Index Berita
Berita Terkait:
- Payah, togel marak di Tegal-Jawa Tengah
Diiming-imingi bonus besar - Jembatan ‘Jebol’ Jalur Pantura Brebes Macet Total
Akibat Kesalahan Kontruksi - Rizal Ramli: Hapus Sistem Kuota Impor
Terjadi Lompatan Harga Produk Pangan Sehingga Merugikan Rakyat - Prestasi Sri Mulyani: Bunga Obligasi Supermahal
Oleh: Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) - FPI Jateng Desak Bubarkan Densus 88
Punya Keinginan Tapi Tak Tahu Dasarnya - Ratusan Siswa SMK dan Guru Demo Tolak Eksekusi Sekolah
Sengketa Lahan Tanah SMK Peristek Tegal, Jawa Tengah - Tak Mampu Bayar Persalinan, RS Siaga Medika Sandera Ibu dan Bayi
Sudah Lima Hari Lamanya Tak Bisa Keluar - Menelisik Wayang Slumpring dan Wayang Kardus di Tegal
Kreasi Wayang Berbahan Limbah - 2013, Jatim Target Pertumbuhan Ekonomi Mencapai 7,5 Persen
Perkuat Komponen Pendorong Pertumbuhan Ekonomi - Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah Target Tembus Pasar Internasional
Fokus Pengembangan Sisi Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas Produk
TRIBUNNEWS.COM – Ketika masih berusia 15 tahun, Olivia Lubis Jensen tidak pernah mengira dirinya bakal jadi orang terkenal di Indonesia. Namun karena mau berubah, nasib baik membawanya di kemudian hari.
Gadis blasteran Indonesia dan Denmark ini ditemukan oleh seorang pencari bakat saat sedang jalan-jalan di sebuah mal di Bandung.
“Aku waktu itu diminta ikut kasting dan diterima untuk main film,” kata gadis yang bermain di film Bukan Cinta Biasa itu.
Sejak itu karirnya makin moncer di dunia hiburan tanah air. Selain main film, Olivia juga jadi model foto, main sinetron dan film televisi. Karena itu, gadis berusia 19 tahun ini kemudian pindah dari Bandung untuk menetap di Jakarta.
Puteri kedua pasangan Benny Jensen dan Viverina Lubis ini mengakui,”Keberhasilanku itu karena aku mau berubah. Salah satunya adalah mengubah gayaku yang dulu tomboi dan cuek. Sekarang aku mau bergaya feminin,” ujar bintang film Tarix Jabrix 3 ini saat temu media di Jakarta.
Saat itu Olivia tampil dengan rambut panjang yang tergerai indah. Sepatu tumit tinggi merah menegaskan kesan dewasa dan feminin.
Kemauan berubah itu ternyata mendatangkan banyak hal baik pada dirinya. “Banyak inspirasi dan kesempatan datang setelah berubah. Saya ditawari banyak peran berbeda karakter di Indonesia dan luar negeri. Ada juga peluang usaha di luar dunia hiburan di sini,” ungkap bintang sinetron Putih Abu-Abu 2 ini.
Olivia mengakui semua perubahan itu bukan tidak mudah. Ada tantangan emosi yang mesti dihadapinya. “Ketika itu terjadi, saya mencoba belajar bersyukur saja dan mempelajari situasi supaya saya bisa bersikap yang tepat dalam segala situasi,” ujarnya.
Sebagai negeri penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, Indonesia tidak kekurangan bahan baku untuk produk. Situasi itu yang membuka peluang bagi perkembangan industri cokelat, seiring dengan kenaikan daya beli masyarakat. Bisnis pariwisata yang kian ramai menambah besar peluang bagi pemain baru yang ingin bergelut di produk cokelat lokal.
Dua tahun terakhir ini, pemerintah kian getol mendorong industri hilir kakao. Maklum, Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia, setelah Ghana dan Pantai Gading.
Alhasil, beberapa pabrik pengolahan kakao yang ada meningkatkan kapasitas produksi. Niat pemerintah juga mengundang investor baru, seperti JB Cocoa yang akan membangun pabrik di Surabaya, Barry-Comextra serta Cargill Cocoa di Makasar.
Dengan berdirinya pabrik pengolahan kakao nanti, jelas, akan menambah pasokan bahan baku cokelat di Indonesia. Buntutnya, para produsen cokelat lokal akan semakin mudah mendapatkan bahan baku.
Inilah potensi yang bisa ditangkap sebagai peluang memproduksi beragam produk cokelat. Apalagi, dengan kemampuan daya beli penduduk Indonesia yang makin tinggi memungkinkan konsumsi produk cokelat terus melonjak.
Thierry Detournay, pemilik PT Anugerah Mulia Sentosa, produsen Cokelat Monggo, mengakui adanya peningkatan konsumsi cokelat. Dia bilang, dibandingkan dengan sembilan tahun lalu, ketika dia mulai merintis bisnis cokelat, peluang berbisnis cokelat sekarang jadi semakin besar. “Perilaku konsumen telah jauh berubah. Daya beli untuk membeli produk tersier makin tinggi,” ujarnya. Pertumbuhan kelas menengah menjadi mesin pendorong konsumsi yang lebih baik.
Selain itu, persepsi cokelat telah berubah. Informasi soal cokelat yang banyak mengandung gula dan lemak, hingga menambah gemuk, mulai terkikis. Berkat edukasi khasiat baik cokelat, banyak orang justru berbalik mengonsumsi cokelat, bukan menghindarinya.
Di Cokelat Monggo, Thierry melihat peningkatan penjualan produk mencapai 20% per tahun. “Potensi pertumbuhan masih besar karena tingkat konsumsi cokelat di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain,” katanya.
Thierry, yang memulai usaha pembuatan cokelat di Yogyakarta itu, sejak awal memosisikan produknya sebagai suvenir oleh-oleh khas Kota Gudeg ini. Tak heran, ia membungkus cokelatnya dengan kemasan penuh gambar yang lekat dengan budaya Jawa. Misalnya menampilkan tokoh wayang.
Setelah sembilan tahun menggeluti usaha ini, Cokelat Monggo mengolah hingga empat ton bahan baku cokelat setiap bulan. Padahal, pada 2004 silam, Thierry memulai usahanya dengan kapasitas lima kilogram setiap bulan.
Tak jauh berbeda, Meika Hazim, pemilik Cokelat Ndalem, juga mengincar pasar para pelancong yang datang ke Yogyakarta. Dia melihat potensi cokelat sebagai buah tangan cukup besar, karena cokelat kerap dibawa oleh kolega atau teman saat mereka datang dari luar negeri. “Padahal, Indonesia merupakan produsen cokelat, kenapa tidak membuatnya sendiri?” jelasnya. Nah, Anda tertarik mengikuti jejak mereka?
Jika ingin memulai bisnis ini, sebaiknya Anda jatuh cinta dulu terhadap cokelat. Dengan menyukai beragam produk cokelat, Anda akan mengetahui citarasa dari sebuah cokelat, dan dapat mengenali cokelat yang lezat.
Ketertarikan Thierry dan Meika juga berawal dari kegemaran mereka mengunyah cokelat. Tak adanya produk permen cokelat yang berkualitas mendorong Thierry untuk belajar membuat cokelat sendiri. Ia sampai kembali ke Belgia, negeri asalnya, khusus belajar membuat cokelat.
Angkat budaya lokal
Cokelat Monggo juga berawal dari usaha kecil. Saat merintis usahanya pada 2004, Thierry hanya bermodal Rp 100 juta. “Biaya investasi paling besar adalah pengadaan tempat dan membangun instalasi,” ujar dia.
Usaha pembuatan cokelat memang cukup sederhana. Menurut Thierry, peralatan yang dibutuhkan hanyalah alat untuk memasak cokelat, seperti wadah panci, sendok adonan, dan cetakan khusus cokelat. “Peralatan ini banyak tersedia di toko-toko perkakas atau browsing di internet. Khusus cetakan, pilih yang bahannya bagus, seperti polikarbonat,” pesan Thierry. Jangan lupa, sediakan cooler lemari pendingin untuk tempat menyimpan cokelat yang sudah jadi.
Thierry menaksir, saat ini, untuk membuka usaha cokelat, seperti miliknya dulu, membutuhkan modal Rp 500 juta. Biaya paling besar adalah untuk menyewa tempat, biaya renovasi, dan pemasangan instalasi.
Pasalnya, untuk membuat cokelat yang berkualitas dibutuhkan tempat yang bersih dengan suhu dan tingkat kelembapan yang terjaga. “Cokelat sangat sensitif terhadap suhu, dingin dan panas, maka usahakan, suhu ruangan berkisar 20° Celsius,” jelasnya. Sebagai pemain tahap awal, Thierry juga menyarankan, untuk menyewa bangunan yang bisa berperan sebagai tempat produksi sekaligus gerai penjualan.
Untuk menghemat modal, dia juga menyarankan memulai usaha dari skala kecil. “Pemain baru sebaiknya melihat respons pasar dulu,” katanya. Apalagi, proses pembuatan cokelat tak mudah. Butuh keberanian untuk melakukan trial and error hingga mendapatkan produk yang diterima konsumen.
Pada tahap awal, Anda bisa mencoba memasak sekitar lima kilogram (kg) bahan baku cokelat. Dari jumlah itu, Thierry bilang, bisa dihasilkan sekitar 50 bar cokelat. Oh ya, Anda juga perlu mengetahui, bahan baku cokelat secara garis besar bisa dibagi menjadi dua jenis: cokelat couverture dan cokelat compound. Cokelat couverture mengandung cocoa butter 32% hingga 39%, hingga cepat lumer di mulut, lebih enak dan mengkilap. Karena itu, harga cokelat couverture lebih mahal. Adapun cokelat compound merupakan perpaduan bubuk cokelat, lemak nabati, dan pemanis.
Thierry bilang, untuk menyajikan kualitas produk yang baik, Monggo menggunakan cokelat couverture. Hanya, teknik pembuatan cokelat dengan menggunakan bahan baku ini lebih sulit.
Cokelat Ndalem, yang mulai meluncur pada 11 Februari 2013 itu, menggunakan bahan baku cokelat yang beragam. Meika bilang, ada empat bahan baku cokelat yang dipakai, dengan harga mulai Rp 60.000 per kg hingga Rp 100.000 per kg.
Meika, yang pernah membuka usaha sejenis sebelum mendirikan Cokelat Ndalem, menggunakan mesin-mesin dan cetakan yang diimpor dari Belgia serta China. Untuk membeli peralatan itu, ia pun harus merogoh investasi hingga Rp 25 juta. “Investasi mesin dan cetakan ini modal terbesar yang harus dikeluarkan,” jelasnya.
Mesin-mesin ini memiliki kapasitas produksi 10 kg hingga 30 kg dalam satu proses produksi. Dalam sehari, Meika melakukan tiga hingga empat kali proses produksi. Untuk menjalankan seluruh proses produksi itu, Meika, yang berbisnis bareng suami, dibantu oleh tiga orang karyawan.
Untuk mendapatkan variasi produk, Anda juga boleh mencampurkan adonan cokelat dengan bahan-bahan lain. “Kekuatan kami adalah percampuran budaya Belgia dan Indonesia,” kata Thierry.
Oleh karena itu, Thierry melengkapi produknya dengan cokelat jahe dan cabai. Nyatanya, produk ini cukup diterima dan disukai pasar. “Mungkin, awalnya orang tertarik dan penasaran,” ujar Thierry. Selain jahe dan cabe, Cokelat Monggo juga menyediakan cokelat bercampur buah, seperti mangga, durian, dan stroberi.
Sama seperti Cokelat Monggo, variasi Cokelat Ndalem cukup beragam. Meluncur bertepatan dengan hari kasih sayang, Meika membuat cokelat edisi cinta dengan tema rempahnesia, yakni cokelat cengkeh, kayu manis, dan sereh.
Setelah edisi cinta, perempuan yang pernah menyabet gelar Diajeng Yogyakarta 2005 itu tengah menyiapkan Serangan Cokelat 1 Maret, yang terinspirasi dari peristiwa sejarah serangan umum 1 Maret di Yogyakarta. Cokelat Serangan 1 Maret akan menawarkan sembilan rasa cokelat. Selain tiga rasa rempah, ia juga merilis rasa peppermint, jahe dan cabai, serta seri klasik yaitu dark, extra dark, dan less sugar dark.
Selain kualitas produk dan citarasa, Anda juga harus memikirkan soal kemasan produk. Budaya lokal bisa menjadi inspirasi pembungkus cokelat yang unik. Tapi, yang pasti, untuk menjaga kualitas produk, Anda harus membungkus cokelat dengan kertas aluminium foil terlebih dahulu.
Selain budaya lokal, Cokelat Monggo juga mengikuti tren lingkungan dengan mengangkat tema ramah lingkungan untuk mengemas cokelatnya. “Kami memakai kertas daur ulang, karena konsumen juga lebih peduli,” tutur Thierry.
Tak hanya kemasan, kreativitas juga harus dikembangkan dalam hal promosi. Selain memanfaatkan momen spesial, seperti Valentine, Anda bisa menggenjot penjualan dengan berbagai promosi.
Maraknya konser musik juga bisa menjadi media promosi yang tepat. Selain itu, media sosial juga bisa dipakai untuk mempromosikan produk. “Kami memakai Facebook, Twitter, dan website. Selain itu, kami masuk ke komunitas, seperti Liburan Jogja dan Pariwisata Jogja,” ujar Meika.
Meika juga rajin menyambangi toko oleh-oleh di berbagai tempat wisata di Yogyakarta. Ia menerapkan skema konsinyasi dengan pemilik toko oleh-oleh tersebut.
Dengan promosi yang gencar ini, meski belum ada sebulan, Meika cukup puas. Permintaan menjadi jauh lebih besar, sehingga ia harus meningkatkan produksi. Cokelat Ndalem dijual mulai dari harga Rp 17.000 hingga Rp 25.000.









